KETERAMPILAN PROSES DALAM PEMBELAJARAN

Keterampilan proses menurut Rustaman (2003:23) adalah keterampilan yang melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual, dan sosial. Peserta didik menggunakan pikirannya/keterampilan kognitif dalam melakukan keterampilan proses. Keterampilan manual terlihat jelas pada saat menggunakan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan, atau perakitan alat. Keterampilan sosial terlihat ketika terjadi interaksi peserta didik, misalnya pada hasil pengamatan.

Tujuan keterampilan proses adalah mengembangkan kreativitas peserta didik dalam belajar sehingga peserta didik secara aktif dapat mengembangkan dan menerapkan kemampuannya. Peserta didik belajar tidak hanya untuk mencapai hasil, melainkan juga belajar bagaimana belajar.

Khusus untuk keterampilan proses dasar, proses-prosesnya meliputi keterampilan mengobservasi, pengklasifikasian, mengukur, mengomunikasikan, menginferensi, mempredikasi, mengenal hubungan ruang dan waktu, serta mengenal hubungan-hubungan angka. Untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan ini kepada siswa maka diperlukan agar siswa melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan keterampilan-keterampilan tersebut.

Ada empat alasan yang melandasi perlunya penerapan pendekatan keterampilan proses menurut Semiawan, dkk. (1989: 14). 
Alasan pertama karena terdesak waktu untuk belajar mengajar, maka guru akan memilih jalan yang termudah, yakni fakta dan konsep melalui metode ceramah. Sebagai hasilnya, para peserta memiliki banyak pengetahuan untuk mengetahui pengetahuan, tidak menemukan konsep, tetapi tidak mengembangkan ilmu pengetahuan. 
Alasan kedua, para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa peserta didik mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai contoh-contoh kongkret, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar nyata. Pada prinsipnya, peserta didik memiliki motivasi untuk belajar karena rasa ingin tahu. Tugas guru memberikan pengetahuan, melainkan mempersiapkan situasi yang menggiring peserta didik untuk bertanya, mengamati, menemukan fakta dan konsep sendiri. Kalau peran guru sangat dominan maka peserta didik akan belajar sedikit sekali, tidak berminat, 
Alasan ketiga, penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar seratus persen, penemuannya bersifat relatif. Jika guru ingin menanamkan sikap ilmiah, maka peserta didik perlu bertanya, berpikir kritis, dan kemungkinan jawaban terhadap satu masalah. Peserta didik perlu dibina berpikir dan bertindak kreatif, yang terpenting adalah memberikan “ikan” kepada peserta didik untuk dimakan sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana memberikan “kail” kepada peserta didik untuk dapat memancing sendiri.
Alasan keempat, dalam proses pembelajaran seyogyanya pengembangan konsep tidak mendukung pengembangan sikap dan nilai dalam diri peserta didik. Jika yang ditekankan pengembangan konsep tanpa memadukannya dengan pengembangan sikap dan nilai, hasilnya adalah intelektualisme yang “gersang” tanpa humanisme. Tujuan kita adalah menghasilkan insan pemikiran sekaligus insan manusiawi yang menyatu dalam pribadi yang selaras, serasi, dan seimbang. Dengan kata-kata lain, peserta didik memiliki intelektual yang tinggi dan karakter yang kuat, sehingga dapat sukses dalam kehidupan.

 Khusus untuk keterampilan proses dasar, proses-prosesnya meliputi keterampilan mengobservasi, pengklasifikasian, mengukur, mengomunikasikan, menginferensi, mempredikasi, mengenal hubungan ruang dan waktu, serta mengenal hubungan-hubungan angka. Untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan ini kepada siswa maka diperlukan agar siswa melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan keterampilan-keterampilan tersebut.

1. Pengertian Keterampilan Proses IPA

Keterampilan Proses IPA adalah suatu pendekatan yang dilakukan pada suatu fakta dan pendekatan konsep, yang digunakan dalam pembelajaran IPA yang didasarkan pada langkah-langkah kegiatan dalam menguji sesuatu yang biasa dilakukan oleh para ilmuwan pada suatu pengembangan atau dalam membuktikan suatu teori.

Funk (1979) menambahkan bahwa ada beberapa macam pendekatan yang biasa digunakan dalam pembelajaran IPA, yaitu pendekatan yang mendekatkan pada fakta, konsep dan pendekatan pada proses. Pendekatan-pendekatan ini dalam praktiknya menentukan sendiri tetapi seringkali merupakan suatu suatu, tunggal lebih cenderung kemana arah pengembangannya. Pendekatan berdasarkan kegiatan yang dapat dilakukan oleh para ilmuwan dalam mengembangkan dan mendapatkan pengetahuan.

Ketrampilan proses dianggap sangat penting untuk pembelajaran IPA. Wynnie Harlen (1992) mengemukakan beberapa alasan untuk itu, yaitu berikut ini.

Pengubahan ide-ide ke arah yang lebih ilmiah (dengan fenomena yang lebih cocok) tergantung pada cara dan pengujian yang digunakan. Pengujian yang digunakan ini berhubungan erat dengan penggunaan proses. 

Pengembangan-pengembangan dalam IPA tergantung pada kemampuan melakukan keterampilan dalam perilaku ilmiah, itulah sebabnya mengapa pengembangan keterampilan mendapatkan perhatian.

Peranan keterampilan proses sangat besar dalam pengembangan konsep-konsep ilmiah.

Carin (1992) menyampaikan pula beberapa alasan tentang pentingnya keterampilan proses, yaitu sebagai berikut.

Dalam praktiknya apa yang dikenal dalam IPA merupakan hal yang tak terpisahkan dari media penyelidikan. Mengetahui IPA tidak hanya sekedar mengetahui materi ke-IPA- saja, terkait dengan bagaimana cara mengumpulkan fakta dan menghubungkan fakta untuk membuat suatu atau kesimpulan. Ilmuwan menggunakan berbagai proses empiris dan analisis dalam mengembangkan untuk menjelaskan misteri alam semesta. Prosedur ini disebut proses IPA.

Keterampilan proses IPA merupakan keterampilan belajar sepanjang hayat yang dapat digunakan bukan saja untuk belajar berbagai macam ilmu tetapi jnga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Semiawan dkk. (1992) mengemukakan beberapa alasan yang melandasi perlunya pendekatan pembelajaran, yaitu:

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dewasa ini maka mungkin lagi seorang guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada para siswanya. Jika pun dipaksakan untuk melaksanakan, para guru akan mengambil jalan pintasan secara langsung dengan metode ceramah. Sebagai hasilnya, siswa mendapatkan banyak pengetahuan tetapi tidak menemukan pengetahuan, meliputi keterampilan memformulasikan hipotesis, menamakan variabel, membuat definisi operasional, melakukan eksperimen, menginterpretasi data, dan melakukan penyelidikan.

2. Keterampilan Mengobservasi

Keterampilan mengobservasi menurut Esler dan Esler (1984) adalah keterampilan yang dikembangkan dengan menggunakan semua indera yang kita miliki untuk mengidentifikasi dan memberikan sifat-sifat dari objek-objek atau kejadian-kejadian. Definisi serupa disampaikan oleh Abruscato (1988) yang menyatakan bahwa mengobservasi artinya menetapkan panca indera untuk memperoleh imformasi atau data mengenai benda atau kejadian. dengan Esler dan Esler serta Abruscato, Carin (1992) mengemukakan bahwa mengobservasi adalah suatu dasar akan suatu objek atau kejadian dengan menggunakan pancaindera (atau alat bantu dari pancaindera) untuk mengidentifikasi sifat dan karakteristik.

Kegiatan yang dapat dilakukan yang berkaitan dengan kegiatan mengobservasi misalnya menjelaskan sifat-sifat yang dimiliki oleh benda- benda, sistem- sistem, dan organisme hidup. Sifat yang dimiliki ini dapat berupa tekstur, warna, bau, bentuk ukuran, dan lain-lain. Contoh yang lebih konkret, seorang guru sering membuka pelajaran dengan menggunakan kalimat tanya seperti apa yang engkau lihat ? Atau bagaimana rasa, bau, bentuk, atau tekstur? Atau mungkin guru menyuruh siswa untuk menjelaskan suatu kejadian secara menyeluruh sebagai pendahuluan dari suatu diskusi.

3. Keterampilan Mengklasifikasi

Keterampilan klasifikasi menurut Esler dan Esler merupakan ketermpilan yang dikembangkan melalui latihan- latihan mengkategorikan benda- benda berdasarkan pada (set yang ditetapkan sebelumnya dari ) sifat- sifat benda tersebut. Menurut Abruscato mengkalsifikasi merupakan proses yang digunakan para ilmuan untuk menentukan golongan benda-benda atau kegaitan-kegiatan. Sedangkan Carin (1992) menyatakan bahwa pengklasifikasian adalah mengatur atau membagi objek, kejadian, atau informasi tentang objek ke dalam kelas menurut metode atau sistem tertentu. Skema yang digunakan dalam IPA (juga pada ilmu-ilmu lainnya) untuk mengidentifikasi benda atau kejadian untuk persamaan, perbedaan, dan hubungan-hubungannya.

Bentuk- bentuk yang dapat dilakukan untuk melatih keterampilan ini misalnya memilih bentuk- bentuk kertas, yang berbentuk kubus, gambar- gambar hewan, daun-daun, atau kancing- kancing berdasarkan sifat- sifat benda tersebut. Sistem klasifikasi berbagai tingkatan dapat dibentuk dari gambar- gambar hewan dan tumbuhan (yang digunting dari majalah) dan menempelkannya pada papan buletin sekolah atau papan panjang di kelas.

Contoh kegiatan yang lain adalah dengan menugaskan siswa untuk membangun skema klasifikasi sederhana dan menggunakannya untuk klasifikasi organisme-organisme dari carta yang diperlihatkan oleh guru, atau yang ada di dalam kelas, atau gambar tumbuh- tumbuhan dan hewan yang dibawa sebagai klasifikasi klasifikasi

4. Keterampilan Mengukur

Keterampilan mengukur menurut Esler dan Esler dapat dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan satuan satuan yang cocok dari ukuran panjang, luas, waktu, berat, dan sebagainya. Abruscato menyatakan bahwa mengukur adalah suatu cara yang kita lakukan untuk mengukur observasi. Sedangkan menurut Carin (1992) mengukur adalah membuat observasi kuantitatif dengan membandingkannya terhadap standar yang kovensional atau standar non konvensional.

Keterampilan dalam mengukur memerlukan kemampuan untuk menggunakan alat secara benar dan kemampuan untuk menerapkan cara perhitungan dengan menggunakan alat ukur. Langkah pertama proses pengukuran lebih pada pertimbangan dan pemilihan instrumen yang tepat untuk digunakan dan menentukan perkiraan objek tertentu sebelum melakukan pengukuran dengan suatu alat ukur untuk mendapatkan ukuran yang tepat. Misalkan, diajarkan untuk mengetahui bahwa mengukur berat menggunakan timbangan dan mengukur panjang menggunakan mistar atau pita ukur. Siswa diajarkan pula untuk memperkirakan suatu objek sebelum melakukan pengukuran dengan alat ukur tertentu.

Untuk melakukan latihan pengukuran, bisa menggunakan alat ukur yang dibuat sendiri atau dikembangkan dari benda-benda yang ada disekitar. Sedangkan pada tahap selanjutnya, menggunakan alat ukur yang telah baku digunakan sebagai alat ukur. Sebagai contoh, dalam penguran jarak, bisa menggunakan potongan kayu, benang, ukuran tangan, atau kaki sebagai satuan ukurnya. Sedangkan dalam pengukuran isi, bisa menggunakan biji- bijian atau kancing yang akan dimasukkan untuk mengisi benda yang akan diukur.

Contoh pengukuran dengan alat ukur standar/ baku adalah memperkirakan dimensi linear dari benda-benda (misalnya yang ada di dalam kelas) dengan menggunakan satuan sentimeter (cm), dekameter (dm), atau meter (m). Kemudian siswa dapat menggunakan meteran (alat ukur, mistar atau penggaris) untuk mengukur benda sebenarnya.

B. Keterampilan Mengomunikasikan, Menginferensi, Memprediksi, Mengenal Hubungan Ruang dan Waktu, Mengenal Hubungan-hubungan Angka

1. Keterampilan Mengkomunikasikan

Menurut Abruscato mengkomunikasikan adalah menambahkan hasil pengamatan yang berhasil dikumpulkan atau menambahkan hasil penyelidikan. Menurut Esler dan Esler dapat dikembangkan dengan menghimpun informasi dari grafik atau gambar yang menjelaskan benda-benda serta kejadian-kejadian secara rinci.

Mengapa keterampilan mengomunikasikan perlu dikembangkan? Telah kita ketahui bersama bahwa komunikasi merupakan hal yang penting untuk semua usaha manusia. Komunikasi yang jelas dan tepat merupakan dasar untuk semua kegiatan ilmiah. Ilmuwan mengomunikasikan sesuatu secara lisan atau tertulis, dapat menggunakan diagram, peta, grafik, persamaan matematika, dan berbagai peragaan visual.kemampuan untuk memilih penjelasan yang tepat tentang benda, alam, dan kejadian dasar untuk komunikasi lisan dan tertulis secara efektif.

Kegiatan untuk keterampilan ini dapat berupa kegiatan membaut dan menginterpretasi informasi dari grafik, charta, peta, gambar, dan lain-lain. Misalnya siswa mengembangkan keterampilan berkomunikasi deskripsi benda- benda dan kejadian tertentu secar rinci. Siswa diminta untuk mengamati dan mendeskripsikan beberapa jenis hewan kecil (seperti ukuran, bentuk, warna, tekstur, dan cara geraknya), kemudian siswa tersebut mendeskripsikan tentang objek yang diamati di depan kelas.

2. Keterampilan Menginferensi

Keterampilan menginferensi menurut Esler dan Esler dapat dikatakan juga sebagai keterampilan membuat kesimpulan sementara. Menurut Abruscato (1998) menginferensi/ menduga/ menyimpulakan sementara adalah menggunakan logika untuk memebuat kesimpulan dari apa yang kita observasi. Carin (1992) mengemukakan bahwa menginferensi adalah berdasarkan alasan yang dijelaskan oleh observasi.

Inferensi adalah kesimpulan sementara yang terkait dengan dugaan dugaan. Membuat dugaan-dugaan valid berdasarkan observasi yang didapat merupakan keterampilan penting untuk belajar secara inkuiri. Latihan inkuiri memerlukan siswa untuk memperhatikan sesuatu di balik informasi yang tampak untuk menginferensi hubungan-hubungan baru.

Contoh kegiatan untuk mengembangkan keterampilan ini adalah dengan menggunakan suatu benda yang dibungkus sehingga siswa pada mulanya tidak tahu apa benda tersebut. kemudian siswa mengguncang- bungkusan yang berisi benda itu, kemudian menciumnya dan menduganya apa yang ada di dalam bungkusan ini. Dari kegiatan ini, siswa akan belajar bahwa akan muncul lebih dari satu jenis inferensi yang dibuat untuk menjelaskan suatu hasil observasi. Selain itu juga belajar bahwa inferensi dapat diperbaiki begitu hasil observasi dibuat.

3. Keterampilan Memprediksi

Memprediksi adalah meramal secara khusus tentang apa yang akan terjadi pada observasi yang akan dating atau membuat perkiraan kejadian atau keadaan yang akan datang yang diharapkan (Carin, 1992). Keterampilan menurut prediksi Esler dan Esler adalah keterampilan memperkirakan kejadian yang akan datang berdasarkan kejadian- kejadian yang terjadi sekarang, keterampialn menggunakna grafik untuk menyisipkan dan prediksi terkaan atau dugaan- dugaan.

Jadi dapat dikatakan bahwa memprediksi sebagai dugaan beberapa kejadian mendatang atas suatu kejadian yang telah diketahui. Perlu diketahui bahwa berdasarkan observasi, pengukuran, dan informasi tentang hubungan-hubungan antara variabel yang diobservasi. Prediksi yang tidak didasarkan pada observasi hanya merupakan suatu terkaan, dan ini diharapkan yang diharapkan dalam kegiatan mempredikasi pada keterampilan proses. Contoh kegiatan untuk melatih kegiatan ini adalah memprediksi berapa lama (dalam satu menit, atau detik) lilin yang menyala akan tetap menyala jika kemudian ditutup dengan toples (dalam berbagai ukuran) yang ditelungkupkan.

4. Keterampilan Mengenal Hubungan Ruang dan Waktu

Keterampilan mengenal hubungan ruang dan waktu menurut Esler dan Esler (1948) meliputi keterampilan menjelaskan suatu benda terhadap lainnya atau keterampilan megnubah bentuk dan posisi suatu benda setelah beberapa waktu. Sedangkan menurut Abruscato menggunakan hubungan waktu merupakan keterampilan yang berkaitan dengan penjelasan- penjelasan tentang hubungan tentang ruang dan waktu beserta perubahan waktu. Keterampilan ini penting karena semua benda tempat dalam suatu ruang pada waktu tertentu.

Proses ini dapat dipecah ke dalam bermacam-macam bentuk, arah, dan susunan yang berkaitan dengan ruang-waktu, gerak dan kecepatan, kesimetrisan, dan kecepatan perubahan. Kegiatan untuk melatih keterampilan ini termasuk kegiatan menamakan dan Mengidentifikasi gambar-gambar geometris dua dan tiga dimensi, mengenal bentuk-bentuk benda tiga dimensi dan bayangannya, membuat pernyataan tentang simetri dari benda-benda. Selanjutnya untuk membantu mengembangkan pengertian siswa terhadap hubungan waktu-ruang, seorang guru dapat memberikan pelajaran tentang pengenalan dan persamaan bentuk dua dimensi (segiempat, segitiga, lingkaran) dan bentuk-bentuk tiga dimensi (seperti kubus, prisma, elips). Seorang guru dapat menyuruh siswa menjelaskan tentang sesuatu,

5. Keterampilan Mengenal Hubungan Bilangan-bilangan

Keterampilan mengenal hubungan bilangan- bilangan menurut Esler dan Esler (1984) meliputi penemuan hubungan kuantitatif antara data dan penggunaan garis biangan untuk membuat operasi aritmatika (matematika). Carin (1992) mengemukakan bahwa menggunakan angka adalah menerapkan aturan atau rumus matematika untuk menghitung jumlah atau menentukan hubungan dari pengukuran dasar. Menurut Abruscato (1988) menggunakan bilangan merupakan salah satu kemampuan dasar pada keterampilan proses. Kita memerlukan bilangan untuk menyatakan suatu ukuran, mengurutkan, dan mengklasifikasikan benda-benda. Lamanya waktu pada kegiatan untuk mengguanakan bilangan tergantung pada program matematika di sekolah. Perkembangan keterampilan bertambah jika mereka bekerja pada proses ini yang mencakup pengidentifikasian pasangan (set) dan bilangannya, pengurutan, penghitungan rata-rata, penggunaan desimal, dan penggunaan puluhan. Garis bilangan dapat digunakan sebagai suatu cara grafik untuk mengajarkan bilangan positif dan negatif.

Kegiatan yang dapat digunakan untuk melatih keterampilan ini adalah menentukan nilai (baca: phi) dengan mengukur suatu rangkaian silinder, menggunakan garis bilangan untuk operasi penambahan dan perkalian. Latihan- latihan yang mengharuskan siswa untuk mengurutkan dan membandingkan benda atau data berdasarkan faktor numerik membantu untuk mengembangkan keterampilan ini. Contoh pertanyaan yang membantu siswa agar memahami tentang hubungan bilangan antara lain adalah : “lebih jauh mana benda A jika dibandingkan dengan benda B?” “ Berapa derajat suhu tersebut turun dari – 100 C ke – 200 C ?

C. Keterampilan Proses Memformulasi Hipotesis, Mengontrol Variabel, Membuat Definisi Operasional, Menginterpretasi Data

Keterampilan proses IPA yang terintegrasi meliputi memformulasi hipotesis, mengontrol variabel, membuat definisi operasional dan menginterpretasi data. Keterampilan Proses IPA ini merupakan kombinasi dari keteramplan IPA dasar seperti mengobservasi, melakukan pengukuran, dan sebagainya. Keterampilan proses IPA yang terintegrasi memperkenalkan kepada siswa yang memiliki keterampilan dasar IPA yang mendasar. Keterampilan proses IPA ini juga bisa dikembangkan dari kegiatan belajar IPA yang terdapat dalam buku paket SD atau yang setara untuk mata pelajaran anak Sekolah Dasar.

Untuk lebih jelasnya keterampilan proses IPA yang erintegrasi tersebut, baiklah kita akan mencoba mendalami satu per satu, agar pemahaman kita pada masing-masing keterampilan tersebut menjadi lebih baik.

1. Memformulasi Hipotesis

Memformulasi hipotesis adalah memformulasi dugaan yang masuk akal yang dapat diuji tentang bagaimana atau mengapa sesuatu terjadi. Hipotesis sering dinyatakan sebagai pernyataan jika dan maka. Contohnya : “Dengan waktu pemanasan 1 menit, apabila volume air PDAM semakin besar, maka suhu air PDAM akan semakin kecil”. Dari formulasi ini dapat dikatakan bahwa hipotesis adalah dugaan tentang pengaruh apa yang akan diberikan variabel terhadap variabel respon. Oleh karena itu dalam formulasi hipotesis terdapat variabel variabel dan respons. Hipotesis yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan, bukan pertanyaan.

Hipotesis dapat dirumuskan dengan penalaran induktif berdasarkan data hasil pengamatan atau dirumuskan dengan penalaran deduktif berdasarkan teori. Penalaran induktif adalah penalaran yang dilakukan berdasarkan data atau kasus menuju suatu pernyataan kesimpulan umum dapat mengajukan hipotesis atau sementara. Penalaran deduktif adalah penalaran yang dilakukan berdasarkan teori menuju kesimpulan sementara yang bersifat spesifik. Beberapa siswa yang dikerjakan siswa saat merumuskan hipotesis adalah: (a) memformulasi hipotesis berdasarkan pengamatan dan inferensi; (b) merancang cara-cara untuk menguji hipotesis; (c) merevisi hipotesis apabila data tidak mendukung hipotesis tersebut.

2. Mengontrol Variabel

Variabel adalah suatu besaran yang dapar bervariasi atau berubah pada suatu situasi tertentu. Dalam penelitian ilmiah terdapat 3 macam variabel yang penting, yaitu variabel manipulasi, variabel respon, dan variabel kontrol. Variabel yang sengaja diubah diubah variabelnya. Variabel yang berubah sebagai akibat dari variabel pemanipulasian disebut variabel respon. Andaikan melakukan percobaan yang menghasilkan kesimpulan bahwa “Apabila banyak lampu seri ditambah, maka nyala lampu menjadi semakin redup". Variabel-variabel yang teliti dalam percobaan itu adalah banyak lampu dan nyala lampu. Pada percobaan ini secara sengaja telah diubah banyak lampu, yakni mula-mula hanya ada satu lampu kemudian ditambahkan satu lampu lagi secara seri dengan lampu pertama. Oleh karena itu banyak lampu merupakan variabel yang dimanfaatkan. Variabel lain, yaitu nyala lampu merupakan variabel respons, karena nyala lampu berubah akibat variabel pemanipulasi diubah.

Di samping variabel, terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi suatu hasil percobaan atau eksperimen. Dalam suatu eksperimen, dapat dikatakan bahwa variabel adalah satu-satunya variabel yang berpengaruh terhadap variabel respons. Oleh karena itu, kita harus yakin bahwa faktor lain yang dapat memberikan suatu pengaruh untuk tidak memberikan pengaruh. Dengan demikian variabel ini disebut variabel kontrol. Eksperimen yang dilakukan dengan pengontrolan variabel seperti itu dapat disebut prosedur eksperimen yang benar. Jadi mengontrol variabel memastikan bahwa segala sesuatu dalam suatu percobaan adalah tetap sama kecuali satu faktor. Misalkan saat dilakukan eksperimen untuk menguji hipotesis “Apabila banyak lampu seri ditambah, maka nyala lampu menjadi semakin redup”. Kita mula-mula membuat rangkaian sederhana satu baterai yang dibebani satu lampu, ternyata menyala terang. Kemudian kita menambah satu lampu lagi secara seri dengan pertama, ternyata lampu menjadi redup. Pada saat kita menambah satu lampu tersebut, kita tidak mengubah empat variabel, yaitu jenis baterai, jenis kabel-kabel penghubung, jenis soket baterai, dan jenis soket lampu. Dalam percobaan ini kita telah menjaga variabel itu agar tidak mempengaruhi hasil percobaan tersebut. Empat variabel itu disebut variabel kontrol. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa satu-satunya variabel yang berpengaruh terhadap redupnya nyala lampu itu (variabel respons) karena ada tambahan satu lampu secara seri (variabel ubah). Kemudian kita menambah satu lampu lagi secara seri dengan pertama, ternyata lampu menjadi redup. Pada saat kita menambah satu lampu tersebut, kita tidak mengubah empat variabel, yaitu jenis baterai, jenis kabel-kabel penghubung, jenis soket baterai, dan jenis soket lampu. Dalam percobaan ini kita telah menjaga variabel itu agar tidak mempengaruhi hasil percobaan tersebut. Empat variabel itu disebut variabel kontrol. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa satu-satunya variabel yang berpengaruh terhadap redupnya nyala lampu itu (variabel respons) karena ada tambahan satu lampu secara seri (variabel ubah). Kemudian kita menambah satu lampu lagi secara seri dengan pertama, ternyata lampu menjadi redup. Pada saat kita menambah satu lampu tersebut, kita tidak mengubah empat variabel, yaitu jenis baterai, jenis kabel-kabel penghubung, jenis soket baterai, dan jenis soket lampu. Dalam percobaan ini kita telah menjaga variabel itu agar tidak mempengaruhi hasil percobaan tersebut. Empat variabel itu disebut variabel kontrol. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa satu-satunya variabel yang berpengaruh terhadap redupnya nyala lampu itu (variabel respons) karena ada tambahan satu lampu secara seri (variabel ubah). Dalam percobaan ini kita telah menjaga variabel itu agar tidak mempengaruhi hasil percobaan tersebut. Empat variabel itu disebut variabel kontrol. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa satu-satunya variabel yang berpengaruh terhadap redupnya nyala lampu itu (variabel respons) karena ada tambahan satu lampu secara seri (variabel ubah). Dalam percobaan ini kita telah menjaga variabel itu agar tidak mempengaruhi hasil percobaan tersebut. Empat variabel itu disebut variabel kontrol. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa satu-satunya variabel yang berpengaruh terhadap redupnya nyala lampu itu (variabel respons) karena ada tambahan satu lampu secara seri (variabel ubah).

Beberapa perilaku siswa dalam mengontrol variabel adalah : (a) pengidentifikasian variabel yang mempengaruhi hasil; (b) pengidentifikasian variabel yang diubah dalam percobaan; (c) pengidentifikasian variabel yang dikontrol dalam suatu percobaan.

3. Membuat Definisi Operasional

definisi operasional adalah perumusan suatu defenisi yang berdasarkan pada apa yang dilakukan atau apa yang diamati. Suatu defenisi operasional mengatakan bagaimana sesuatu tindakan atau kejadian berlangsung, bukan apakah tindakan atau kejadian itu.

Mendefenisikan secara operasional suatu variabel yang menetapkan tindakan apa yang dilakukan dan pengamatan apa yang akan dicatat. Contohnya, dari hipotesis “Dengan waktu pemanasan 1 menit, apabila volume air PDAM semakin besar, maka suhu air PDAM akan semakin kecil”. Untuk variabel, tindakan yang dilakukan adalah menuangkan air ke dalam gelas kimia sampai 20 ml, 40 ml, 60 ml; sedangkan pengamatan yang dicatat adalah volume air PDAM, yaitu 20 ml, 40 ml, dan 60 ml. untuk variabel respon, tindakan yang dilakukan adalah lilin, sedangkan pengamatan yang dicatat adalah suhu air PDAM. peneliti penting dicatat bahwa setiap peneliti dapat membuat defenisi variabel operasional sendiri-sendiri, artinya variabel operasional yang sama defenisi dapat berbeda-beda pada yang ditetapkan masing-masing.

Oleh karena itu, sebagian besar rancangan eksperimen sebagai persiapan pengumpulan data telah terselesaikan. Yang tersisa tinggal menetapkan variabel kontrol. Beberapa variabel perilaku siswa saat mendefenisikan secara operasional adalah; (a) memaparkan pengalaman-pengalaman dengan menggunakan obyek-obyek konkrit, (b) mengatakan apa yang diperbuat obyek-obyek tersebut, (c) memaparkan perubahan-perubahan atau pengukuran-pengukuran selama suatu kejadian.

4. Menginterpretasi Data

Sebelum melakukan penyelidikan, sebaiknya terlebih dahulu belajar bagaimana caranya menginterpretasi data atau melakukan pengamatan kuantitatif. Interpretasi data biasanya melibatkan data organisasi ke dalam tabel atau gambar/bagan. Interpretasi data juga dapat dilakukan dengan jalan membuat gambar atau grafik dari hasil pengamatan, biasanya melibatkan usaha-usaha peulisan, hasil observasi, kesimpulan, inferensi/penafsiran dan merekomendasi. Kesimpulan biasanya dengan ringkasan dari hasil pengamatan. Sedangkan inferensi adalah pernyataan umum yang berfungsi untuk menjelaskan atau membuat kesimpulan menjadi bermakna. Rekomendasi adalah saran untuk tindakan di masa yang akan datang berdasarkan kesimpulan dan inferensi yang telah dibuat.

Hasil pengamatan atau observasi secara bermakna disebut interpretasi data. Interpretasi data sangat penting karena makna dan pengertian yang diperoleh dapat bermanfaat dengan baik. Bila kita melihat keterampilan proses dalam IPA, perlu diingat bahwa IPA dimulai dari suatu pernyataan. Sering terjadi, hipotesis yang dibuat bekerja untuk memprediksi/meramalkan jawaban untuk pertanyaan yang telah dibuat. Kemudian diselidiki dan dilaksanakan.

Dari hasil penyelidikan biasanya diperoleh data hasil percobaan. Data yang dihasilkan kemudian diinterpretasi, misalnya angka-angka ditransfer ke dalam kata-kata atau kalimat untuk menjelaskan hasil. Terakhir dari peneliti harus memutuskan apa arti dari kata-kata tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan antara lain. apakah ramalan yang dibuat cukup akurat? Apakah satu variabel yang mempengaruhi variabel lain? Pertanyaan lain yang mungkin muncul adalah Apakah yang harus dikerjakan berikutnya? Apakah yang harus diberitahukan kepada orang lain tentang penyelidikan yang dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah bagian dari data interpretasi.

Comments

Popular posts from this blog

SURAT ELEKTRINIK (SUREL /EMAIL)

SEARCH ENGINE